SPs USK Gelar Kuliah Umum “From Risk to Resilience”, Bahas Pelajaran Banjir Aceh 2025 untuk Pembangunan Berkelanjutan

Banda Aceh, 22 Agustus 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (SPs USK) melalui Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) menggelar kuliah umum bertajuk “From Risk to Resilience: Membaca Ulang Banjir Aceh 2025 sebagai Pelajaran Pembangunan”, Sabtu (22/8), di Ruang Mini Theater SPs USK. Kegiatan menghadirkan Dr. H. T. Ahmad Dadek, S.H., M.H., Perencana Ahli Utama Pemerintah Aceh dan Ketua P2K Aceh, sebagai narasumber.

Kegiatan dibuka oleh Direktur SPs USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P., dan turut dihadiri Koordinator Program Studi MIK, Dr. Ir. Yunita Idris, S.T., M.Eng. Structure., IPM., yang sekaligus bertindak sebagai moderator. Hadir pula Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB), Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., IPU, serta Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil. Kehadiran unsur akademik dan pusat riset kebencanaan USK memperkuat forum sebagai ruang pembelajaran dan pertukaran perspektif mengenai pengelolaan risiko bencana.

Mengangkat pengalaman banjir Aceh 2025 sebagai bahan refleksi, kegiatan ini membahas bagaimana pengalaman bencana dapat menjadi pembelajaran untuk memperkuat ketahanan, kesiapsiagaan, dan keberlanjutan pembangunan Aceh. Pembahasan mencakup refleksi terhadap dampak banjir, evaluasi sistem penanggulangan bencana, serta arah strategi pembangunan daerah yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana.

Dalam pemaparannya, Ahmad Dadek turut menjelaskan berbagai kondisi dan kebutuhan rehabilitasi serta rekonstruksi pascabencana di Aceh. Materi yang disampaikan menunjukkan bahwa proses pemulihan masih menghadapi tantangan pada berbagai sektor, termasuk infrastruktur yang terdampak. Data yang dipaparkan mencatat 1.631 ruas jalan dan 636 jembatan terdampak, sementara penanganan secara permanen pada saat materi tersebut disusun baru mencakup sebagian kecil dari keseluruhan infrastruktur terdampar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu bahan refleksi penting dalam melihat pembangunan Aceh pascabencana. Pemulihan tidak hanya membutuhkan penanganan terhadap kerusakan yang telah terjadi, tetapi juga perlu diarahkan pada pembangunan yang lebih tangguh terhadap risiko, sehingga infrastruktur, lingkungan, dan masyarakat memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana berikutnya.

Bagi mahasiswa SPs USK, khususnya yang memiliki ketertarikan pada bidang kebencanaan, forum ini memberikan kesempatan untuk memahami persoalan bencana dari perspektif yang lebih luas. Bencana tidak hanya dipandang sebagai persoalan kedaruratan, tetapi juga berkaitan erat dengan perencanaan pembangunan, ketahanan masyarakat, pengelolaan lingkungan, infrastruktur, serta kebijakan pemerintah daerah.

Keterlibatan Prodi MIK, Prodi DIB, dan TDMRC USK dalam kegiatan tersebut sekaligus mencerminkan kuatnya ekosistem keilmuan kebencanaan di Universitas Syiah Kuala. Kolaborasi antara pendidikan pascasarjana, penelitian, dan pengalaman praktis di lapangan diharapkan mampu menghasilkan pemikiran yang relevan dalam mendukung pengurangan risiko bencana di Aceh.

Melalui kuliah umum ini, SPs USK mendorong agar pengalaman banjir Aceh 2025 tidak berhenti sebagai catatan peristiwa, tetapi dapat diolah menjadi pelajaran pembangunan untuk memperkuat kesiapsiagaan, ketahanan, dan resiliensi daerah. Semangat “From Risk to Resilience” menjadi pengingat bahwa pembangunan masa depan perlu dirancang dengan mempertimbangkan risiko bencana serta kemampuan masyarakat dan daerah untuk pulih dan beradaptasi.

#SDGs4 #SDGs11 #SDGs13 #SDGs16 #SDGs17