Sekolah Pascasarjana USK Perkuat Jejaring Akademik Internasional melalui Forum Perdamaian dan Pembangunan Aceh

Foto Bersama Fahmi M. Nasir, Dr. Yuhki Tajima, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P., Dr. Reza Idria

Banda Aceh, 22 September 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi ruang pertemuan akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, dan peserta internasional dalam International Panel Lecture yang diselenggarakan pada Senin (22/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari field visit Georgetown Asia Pacific Peace Academy (GAPPA) ke Aceh dan terlaksana melalui kolaborasi Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) USK, yang dipimpin oleh  Prof. Dr. Cut Dewi, S.T., M.T., M.Sc., bersama International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) dan Georgetown Asia Pacific Peace Academy, Georgetown University, Amerika Serikat.

Kaprodi Magister Damai dan Resolusi Konflik Prof. Dr. Cut Dewi, S.T., M.T., M.Sc. Memberikan Kata Sambutan.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P. Dalam sambutannya, Prof. Muslim Akmal menekankan pentingnya forum internasional sebagai ruang untuk memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus membangun jejaring akademik dan menghasilkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi praktis bagi pembangunan inklusif dan perdamaian berkelanjutan.

Penyampaian Sambutan Oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P.

Kehadiran sejumlah akademisi dan pengelola lembaga internasional turut memperkuat dimensi akademik kegiatan ini. Mereka antara lain Dr. Yuhki Tajima, Rector of Georgetown SFS Asia Pacific in Jakarta; Dr. Scott Evan Guggenheim, Director of Policy Labs of GSAP; Dr. Reza Idria, Executive Director of ICAIOS; serta Ika Ismiati, Program Manager of ICAIOS.

Direktur SPs USK Duduk Bersama Para Narasumber di Panggung

Forum yang berlangsung di lingkungan Sekolah Pascasarjana USK tersebut juga diikuti peserta dari Indonesia, Jepang, Myanmar, Filipina, Thailand, Pakistan, dan Amerika Serikat. Keberagaman peserta memberikan kesempatan untuk memperluas perspektif dalam memahami pengalaman Aceh, sekaligus mendiskusikannya dalam konteks berbagai pengalaman pembangunan, konflik, dan perdamaian di kawasan Asia-Pasifik.

Forum tersebut menjadi wadah pertukaran pengetahuan mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan resolusi konflik, diplomasi, pembangunan, dan tata kelola pascakonflik di kawasan Asia dan sekitarnya.

Salah satu agenda utama menghadirkan Fahmi M. Nasir dari Baitul Mal Aceh yang membawakan topik “Aceh’s Development Trajectory, Special Autonomy, and Fiscal Sustainability.” Pembahasan mengangkat perjalanan pembangunan Aceh dalam konteks pascakonflik, pelaksanaan otonomi khusus, serta tantangan keberlanjutan fiskal yang memiliki keterkaitan dengan arah pembangunan Aceh ke depan.

Penyampaian Materi dari Fahmi M. Nasir

Selain aspek pembangunan dan fiskal, forum ini turut membuka pembahasan mengenai hubungan antara kebijakan pembangunan, kapasitas kelembagaan, dan keberlanjutan perdamaian.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Sekolah Pascasarjana USK dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pembelajaran dan pertukaran pengetahuan dalam lingkungan akademik internasional. Keterlibatan mahasiswa bersama akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan memberikan ruang pembelajaran yang lebih luas serta mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman praktis di bidang perdamaian dan pembangunan.

Dari sisi substansi, pembahasan mengenai resolusi konflik, pembangunan pascakonflik, tata kelola, dan keberlanjutan perdamaian juga memiliki keterkaitan erat dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Forum ini menjadi ruang untuk mendiskusikan bagaimana kebijakan pembangunan dan kapasitas kelembagaan dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan perdamaian di Aceh dan kawasan yang lebih luas.

Sementara itu, kolaborasi antara Sekolah Pascasarjana USK, MDRK, ICAIOS, dan Georgetown Asia Pacific Peace Academy mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan jejaring akademik, pertukaran pengetahuan, serta peluang kerja sama pendidikan dan penelitian lintas institusi dan negara.

Bagi Sekolah Pascasarjana USK, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi pembelajaran dengan menghadirkan mahasiswa dalam ruang akademik yang mempertemukan mereka secara langsung dengan akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan yang bekerja pada isu perdamaian dan pembangunan.

Kolaborasi yang dibangun bersama ICAIOS dan Georgetown Asia Pacific Peace Academy juga diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan jejaring akademik, pertukaran pengetahuan, serta kerja sama pendidikan dan penelitian pada masa mendatang.

#SDGs4 #SDGs16 #SDGs17