
PIDIE JAYA – Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan kerja sama internasional sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui keterlibatan mahasiswa Program Magister Pengelolaan Lingkungan dalam International Community Service-Learning Program bersama mahasiswa Kolej Kediaman Kinabalu, Universiti Malaya (UM), Malaysia.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–26 Juli 2026 tersebut dipusatkan di Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Banda Aceh. Program ini merupakan bagian dari Kinabalu Volunteer’s International Project (KVIP) yang dilaksanakan oleh Kolej Kediaman Kinabalu (KK8), Universiti Malaya, bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Sekolah Pascasarjana USK, khususnya dari Program Magister Pengelolaan Lingkungan, berkolaborasi dengan mahasiswa dari sejumlah fakultas di lingkungan USK. Kolaborasi lintas program dan lintas negara ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan akademik secara langsung dalam menjawab persoalan masyarakat pascabencana.
Rangkaian pengabdian dilaksanakan di Gampong Husein, Gampong Blang Awe, dan Gampong Genteung, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ketiga wilayah tersebut merupakan bagian dari daerah yang terdampak banjir besar pada November 2025. Selain kegiatan di lapangan, para mahasiswa juga mengikuti kegiatan akademik, diskusi, serta pertukaran budaya bersama mahasiswa Universiti Malaya di Banda Aceh.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah pendampingan psikososial bagi anak-anak penyintas banjir. Bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional, mahasiswa dari USK dan Universiti Malaya mengajak anak-anak mengikuti berbagai aktivitas edukatif dan kreatif, seperti permainan kelompok, menggambar, bercerita, bernyanyi, serta kegiatan lainnya.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu anak-anak membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri setelah mengalami bencana, sekaligus mendorong mereka untuk kembali memiliki semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
Selain pendampingan psikososial, program juga memberikan perhatian terhadap pemulihan lingkungan pascabencana melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan konservasi. Bagi mahasiswa Program Magister Pengelolaan Lingkungan Sekolah Pascasarjana USK, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan perspektif pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana berbasis ekosistem dalam konteks nyata di masyarakat.
Konsep service-learning yang diterapkan dalam program ini mengintegrasikan proses pembelajaran dengan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana kegiatan sosial, tetapi juga belajar memahami kondisi masyarakat, tantangan pemulihan pascabencana, komunikasi lintas budaya, kepemimpinan, serta kerja sama dalam lingkungan multikultural.
Keterlibatan mahasiswa Sekolah Pascasarjana dalam program internasional tersebut sejalan dengan komitmen SPS USK untuk mendorong mahasiswa memiliki wawasan global, kepedulian sosial, kemampuan kolaborasi, dan kompetensi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan dan kemasyarakatan.
Kolaborasi dengan Universiti Malaya juga menjadi bagian penting dalam memperluas jejaring internasional Sekolah Pascasarjana USK. Kerja sama semacam ini tidak hanya memberikan pengalaman internasional kepada mahasiswa, tetapi juga membuka peluang pengembangan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, pertukaran mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Pascasarjana USK menegaskan bahwa pendidikan pascasarjana tidak hanya berorientasi pada penguatan kapasitas akademik, tetapi juga pada pembentukan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan memiliki perspektif global.
Kolaborasi USK dan Universiti Malaya ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi berbagai program akademik dan kemasyarakatan lainnya, sekaligus memperkuat peran Sekolah Pascasarjana USK dalam membangun jejaring internasional dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.