
Banda Aceh, 11 November 2025 — Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (SPs USK) menggelar kegiatan Kuliah Tamu bertajuk “Damai dalam Bingkai Kearifan Lokal” yang dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Agreement (IA) antara Universitas Syiah Kuala (USK), Sekolah Pascasarjana (SPs), dan Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) dengan Nonviolent Peaceforce Philippines.
Kegiatan berlangsung di Ruang VIP Gedung AAC Dayan Dawood USK, dan dihadiri oleh berbagai kalangan akademisi, mahasiswa, serta perwakilan lembaga mitra.

Acara resmi dibuka oleh Direktur SPs USK, Prof. Dr. Hizir, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif kerja sama strategis ini. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan pentingnya sinergi antara universitas dan lembaga internasional dalam memperkuat kapasitas akademik serta kontribusi nyata terhadap perdamaian dan kemanusiaan.

“Kearifan lokal memiliki peran penting dalam membangun dan menjaga perdamaian. Melalui kerja sama ini, kita ingin menghadirkan pendekatan yang kontekstual, ilmiah, dan humanis dalam penyelesaian konflik,” ujar Prof. Marwan.
Penandatanganan MoU, MoA, dan IA dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada perdamaian dan resolusi konflik di kawasan Asia.

Setelah prosesi penandatanganan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuliah tamu yang menghadirkan dua narasumber, yaitu:
- Mahdi Efendi, perwakilan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA), yang memaparkan tentang peran BRA dalam mengawal perdamaian; dan
- Delsy Ronnie, Ph.D., Head of Mission of the Philippines & Regional Representative for Asia dari Nonviolent Peaceforce, yang memaparkan mengenai Learning from Peace Process in Aceh & Future Challenges (belajar dari proses perdamaian di Aceh dan tantangan kedepannya).


Kedua narasumber memberikan wawasan yang inspiratif tentang pentingnya pendekatan damai berbasis komunitas dan nilai-nilai lokal dalam menjaga keberlanjutan perdamaian. Sesi kuliah berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta, mencerminkan antusiasme tinggi terhadap topik yang diangkat.

Sebagai penutup, panitia memberikan hadiah simbolis kepada para peserta yang aktif bertanya, serta menyerahkan sertifikat penghargaan kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam kegiatan akademik tersebut.



Kegiatan ini menegaskan peran SPs USK, khususnya Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK), sebagai pusat kajian akademik yang berkomitmen pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang perdamaian dan resolusi konflik berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama internasional antara USK dan lembaga global.